Home

MENYIKAPI KONTROVERSI AUTISME DAN IMUNISASI MMR

September 27, 2010

MENYIKAPI KONTROVERSI AUTISME DAN IMUNISASI MMR
dr. Widodo Judarwanto, Rumah Sakit Bunda Jakarta

Dalam waktu terakhir ini kasus penderita autisme tampaknya semakin
meningkat pesat. Autisme tampak menjadi seperti epidemi ke berbagai belahan
dunia. Dilaporkan terdapat kenaikan angka kejadian penderita Autisme yang
cukup tajam di beberapa negara. Keadaan tersebut di atas cukup mencemaskan
mengingat sampai saat ini penyebab autisme multifaktorial, masih misterius
dan sering menjadi bahan perdebatan diantara para klinisi.

Autisme adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai
dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa,
perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Perdebatan yang terjadi
akhir-akhir ini berkisar pada kemungkinan hubungan autisme dengan imunisasi
MMR (Mumps, Measles, Rubella). Banyak orang tua menolak imunisasi karena
mendapatkan informasi bahwa imunisasi MMR dapat mengakibatkan autisme.
Akibatnya anak tidak mendapatkan perlindungan imunisasi untuk menghindari
penyakit-penyakit justru yang lebih berbahaya seperti hepatitis B, Difteri,
Tetanus, pertusis, TBC dan sebagainya. Banyak penelitian yang dilakukan
secara luas ternyata membuktikan bahwa autism tidak berkaitan dengan
imunisasi MMR. Tetapi memang terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa
Autism dan imunisasi MMR berhubungan.

Imunisasi MMR adalah imunisasi kombinasi untuk mencegah penyakit Campak,
Campak Jerman dan Penyakit Gondong. Pemberian vaksin MMR biasanya diberikan
pada usia anak 16 bulan. Vaksin ini adalah gabungan vaksin hidup yang
dilemahkan. Semula vaksin ini ditemukan secara terpisah, tetapi dalam
beberapa tahun kemudian digabung menjadi vaksin kombinasi. Kombinasi
tersebut terdiri dari virus hidup Campak galur Edmonton atau Schwarz yang
telah dilemahkan, Componen Antigen Rubella dari virus hidup Wistar RA 27/3
yang dilemahkan dan Antigen gondongen dari virus hidup galur Jerry Lynn
atau Urabe AM-9.

Pendapat yang mendukung autism berkaitan dengan imunisasi :
Terdapat beberapa penelitian dan beberapa kesaksian yang mengungkapkan
Autisme mungkin berhubungan dengan imunisasi MMR. Reaksi imunisasi
MMRsecara umum ringan, pernah dilaporkan kasus meningoensfalitis pada
minggu
3-4 setelah imunisasi di Inggris dan beberapa tempat lainnya. Reaksi klinis
yang pernah dilaporkan meliputi kekakuan leher, iritabilitas hebat,
kejang, gangguan kesadaran, serangan ketakutan yang tidak beralasan dan
tidak dapat dijelaskan, defisit motorik/sensorik, gangguan penglihatan,
defisit visual atau bicara yang serupa dengan gejala pada anak autism.

Andrew Wakefielddari Inggris melakukan penelitian terhadap 12 anak,
ternyata terdapat gangguan Inflamantory Bowel disesase pada anak autism.
Hal ini berkaitan dengan setelah diberikan imunisasi MMR. Bernard Rimland
dari Amerika juga mengadakan penelitian mengenai hubungan antara vaksinasi
terutama MMR (measles, mumps rubella ) dan autisme. Wakefield dan
Montgomery melaporkan adanya virus morbili (campak) dengan autism pada 70
anak dari 90 anak autism dibandingkan dengan 5 anak dari 70 anak yang tidak
autism. Hal ini hanya menunjukkan hubungan, belum membuktikan adanya sebab
akibat.

Jeane Smith seorang warga negara Amerika bersaksi didepan kongres Amerika :
kelainan autis dinegeri ini sudah menjadi epidemi, dia dan banyak orang tua
anak penderta autisme percaya bahwa anak mereka yang terkena autisme
disebabkan oleh reaksi dari vaksinasi. Sedangkan beberapa orang tua
penderita autisme di Indonesiapun berkesaksian bahwa anaknya terkena
autisme setelah diberi imunisasi

Pendapat yang menentang bahwa imunisasi menyebabkan autisme
Sedangkan penelitian yang mengungkapkan bahwa MMR tidak mengakibatkan
Autisme lebih banyak lagi dan lebih sistematis. Brent Taylor, melakukan
penelitian epidemiologik dengan menilai 498 anak dengan Autisme.
Didapatkan kesimpulan terjadi kenaikkan tajam penderita autism pada tahun
1979, namun tidak ada peningkatan kasus autism pada tahun 1988 saat
MMRmulai digunakan. Didapatkan kesimpulan bahwa kelompok anak yang
tidak
mendapatkan MMR juga terdapat kenaikkan kasus aurtism yang sama dengan
kelompok yang di imunisasi MMR.

Dales dkk seperti yang dikutip dari JAMA (Journal of the American Medical
Association) 2001, mengamati anak yang lahir sejak tahun 1980 hingga 1994
di California, sejak tahun 1979 diberikan imunisasi MMR. Menyimpulkan
bahwa kenaikkan angka kasus Autism di California, tidak berkaitan dengan
mulainya pemberian MMR .

Intitute of medicine, suatu badan yang mengkaji keamanan vaksin telah
melakukan kajian yang mendalam antara hubungan Autisme dan MMR. Badan itu
melaporkan bahwa secara epidemiologis tidak terdapat hubungan antara
MMRdan ASD. The British Journal of General Practice mepublikasikan
penelitian
De Wilde, pada bulan maret 2001. Meneliti anak dalam 6 bulan setelah
imunisasi MMR dibandingkan dengan anak tanpa Autisme. Menyimpulkan tidak
terdapat perubahan perilaku anak secara bermakna antara kelompok control
dan kasus. Pada jurnal ilmiah Archives of Disease in Childhood, September
2001, The Royal College of Paediatrics and Child Health, menegaskan bahwa
tidak ada bukti ilmiah yang mendukung adanya hipoteda kaitan
imunisasi MMRdan Autisme. Para profesional di bidang kesehatan tidak
usah ragu dalam
merekomendasikan imunisasi MMR pada pasiennya..

Makela A, Nuorti JP, Peltola H tim peneliti dari Central Hospital Helsinki
dan universitas Helsinky Finlandia pada bulan Juli 2002 telah melakukan
penelitian terhadap 535.544 anak yang mendapatkan imunisasi MMR sejak 1982
hingga 1986, yang dilakukan pengamatan 3 bulan setelah di Imunisasi. Mereka
menyimpulkan bahwa tidak menunjukkan hubungan yang bermakana antara
imunisasi MMR dengan penyakit neurologis (persrafan) seperti ensefalitis,
aseptik meningitis atau autisme. Kreesten Meldgaard Madsen dkk bulan
November 2002, melakukan penelitian sejak tahun 1991 – 1998 terhadap
440.655 anak yang mendapatkan imunisasi MMR. Hasilnya menunjukkan tidak
terbukti hipotesis hubungan MMR dan Autisme.

Rekomendasi Intitusi atau Badan Kesehatan Dunia
Beberapa institusi atau badan dunia di bidang kesehatan yang independen
dan sudah diakui kredibilitasnya juga melakukan kajian ilmiah dan
penelitian tentang tidak adanya hubungan imunisasi dan autisme. Dari hasil
kajian tersebut, dikeluarkan rekomendasi untuk tenaga profesional untuk
tetap menggunakan imunisasi MMR dan thimerosal karena tidak terbukti
mengakibatkan Autisme.

The All Party Parliamentary Group on Primary Care and Public Health pada
bulan Agustus 2000, menegaskan bahwa MMR aman. Dengan memperhatikan
hubungan yang tidak terbukti antara beberapa kondisi seperti inflammatory
bowel disease (gangguan pencernaan) dan autisme adalah tidak berdasar.

WHO (World Health Organisation), pada bulan Januari 2001 menyatakan
mendukung sepenuhnya penggunaan imunisasi MMR dengan didasarkan kajian
tentang keamanan dan efikasinya.

Beberapa institusi dan organisasi kesehatan bergengsi di Inggris termasuk
the British Medical Association, Royal College of General Practitioners,
Royal College of Nursing, Faculty of Public Health Medicine, United Kingdom
Public Health Association, Royal College of Midwives, Community
Practitioners and Health Visitors Association, Unison, Sense, Royal
Pharmaceutical Society, Public Health Laboratory Service and Medicines
Control Agency pada bulan januari tahun 2001 setelah mengadakan pertemuan
dengan pemerintahan Inggris mengeluarkan pernyataan bersama yaitu
MMRadalah vaksin yang sangat efektif dengan laporan keamanan yang
sangat baik.
Secara ilmiah sangat aman dan sanagat efektif untuk melindungi anak dari
penyakit. Sangat merekomendasikan untuk memberikan MMR terhadap anak dan
tanpa menimbulkan resiko.

The Committee on Safety of Medicine (Komite Keamanan Obat) pada bulan Maret
2001, menyatakan bahwa kesimpulan dr Wakefield tentang vaksin MMR terlalu
premature. Tidak terdapat sesuatu yang mengkawatirkan. The Scottish
Parliament�s Health and Community Care Committee, juga menyatakan pendapat
tentang kontroversi yang terjadi, yaitu Berdasarkan pengalaman klinis
berbasis bukti, tidak terdapat hubungan secara ilimiah antara MMR dan
Autisme atau Crohn disease. Komite tesebut tidak merekomendasikan perubahan
program imunisasi yang telah ditetapkan sebelumnya bahwa MMR tetap harus
diberikan.

The Irish Parliament�s Joint Committee on Health and Children pada bulan
September 2001, melakukan review terhadap beberapa penelitian termasuk
presentasi Dr Wakefield yang mengungkapkan AUTISM berhungan dengan MMR.
Menyimpulkan tidak ada hubungan antara MMR dan Autisme. Tidak terdapat
pengalaman klinis lainnya yang mebuktikan bahan lain di dalam MMR yang
lebih aman dibandingkan kombinasi imunisasi. MMR.

The American Academy of Pediatrics (AAP), organisasi profesi dokter anak di
Amerika Serikat pada tanggal 12 � 13 Juni 2000 mengadakan konferensi dengan
topik “New Challenges in Childhood Immunizations” di Oak Brook, Illinois
Amerika Serikat yang dihadiri para orang tua penderita autisme, pakar
imunisasi kesehatan anak dan para peneliti. Pertemuan tersebut
merekomendasikan bahwa tidak terdapat huibungan antara MMR dan Autisme.
Menyatakan bahwa pemberian imunisasi secara terpisah tidak lebih baik
dibandingkan MMR, malahan terjadi keterlambatan imunisasi MMR. Selanjutnya
akan dilakukan penelitian l;ebih jauh tentang penyebab Autisme.

BAGAIMANA SIKAP KITA SEBAIKNYA ?
Bila mendengar dan mengetahui kontroversi tersebut, maka masyarakat awam
bahkan beberapa klinisipun jadi bingung. Untuk menyikapinya kita harus
cermat dan teliti dan berpikiran lebih jernih. Kalau mengamati beberapa
penelitian yang mendukung adanya autisme berhubungan dengan imunisasi,
mungkin benar sebagai pemicu. Secara umum penderita autisme sudah
mempunyai kelainan genetik (bawaan) dan biologis sejak awal. Hal ini
dibuktikan bahwa genetik tertentu sudah hampir dapat diidentifikasi dan
penelitian terdapat kelainan otak sebelum dilakukan imunisasi. Kelainan
autism ini bisa dipicu oleh bermacam hal seperti imunisasi, alergi
makanan, logam berat dan sebagainya. Jadi bukan hanya imunisasi yang dapat
memicu timbulnya autisme. Pada sebuah klinik tumbuh kembang anak didapatkan
40 anak dengan autism tetapi semuanya tidak pernah diberikan imunisasi. Hal
ini membuktikan bahwa pemicu autisme bukan hanya imunisasi.

Penelitian yang menunjukkan hubungan keterkaitan imunisasi dan autism hanya
dilihat dalam satu kelompok kecil (populasi) autism. Secara statistik hal
ini hanya menunjukkan hubungan, tidak menunjukkan sebab akibat. Kita juga
tidak boleh langsung terpengaruh pada laporan satu atau beberapa kasus,
misalnya bila orang tua anak autism berpendapat bahwa anaknya timbul gejala
autism setelah imunisasi. Kesimpulan tersebut tidak bisa digeneralisasikan
terhadap anak sehat secara umum (populasi lebih luas). Kalau itu terjadi
bisa saja kita juga terpengaruh oleh beberapa makanan yang harus dihindari
oleh penderita autism juga juga akan dihindari oleh anak sehat lainnya.
Jadi logika tersebut harus dicermati dan dimengerti.

Bila terpengaruh oleh pendapat yang mendukung keterkaitan autism dan
imunisasi tanpa melihat fakta penelitian lainnya yang lebih jelas, maka
kita akan mengabaikan imunisasi dengan segala akibatnya yang jauh lebih
berbahaya pada anak. Penelitian dalam jumlah besar dan luas secara
epidemiologis lebih bisa dipercaya untuk menunjukkan sebab akibat
dibandingkan laporan beberapa kasus yang jumlahnya relatif tidak bermakna
secara umum. Beberapa institusi atau badan kesehatan dunia yang bergengsi
pun telah mengeluarkan rekomendasi untuk tetap meneruskan pemberian
imunisasi MMR. Hal ini juga menambah keyakinan kita bahwa memang Imunisasi
MMR memang benar aman.

Kontroversi itu terus berlanjut terus, namun kita bisa mengambil hikmah dan
jalan yang terbaik anak kita harus imunisasi atau tidak ? Untuk meyakinkan
hal tersebut mungkin kita bisa berpedoman pada banyak penelitian yang
lebih dipercaya validitasnya secara statistik dengan populasi lebih banyak
dan luas yaitu Autisme tidak berhubungan dengan MMRl. Demikian pula kita
harus percaya terhadap rekomendasi berbagai badan dunia kesehatan yang
independen dan terpercaya setelah dilakukan kajian ilmiah terhadap berbagai
penelitian yang dilakukan oleh beberapa pakar kesehatan anak di berbagai
dunia maju.

Dari beberapa hal tersebut diatas, tampaknya dapat disimpulkan bahwa
Imunisasi MMR tidak mengakibatkan Autisme, bila anak kita sehat dan tidak
berbakat autisme. Tetapi diduga imunisasi dapat memicu memperberat
timbulnya gangguan perilaku pada anak yang sudah mempunya bakat autisme
secara genetik sejak lahir.

Tetapi tampaknya teori, penelitian atau pendapat beberapa kasus yang
mendukung keterkaitan autisme dengan imunisasi, tidak boleh diabaikan
bergitu saja. Meskipun laporan penelitian yang mendukung hubungan Autisme
dan imunisasi hanya dalam populasi kecil atau bahkan laporan perkasus anak
autisme. Sangatlah bijaksana untuk lebih waspada bila anak kita sudah mulai
tampak ditemukan penyimpangan perkembangan atau perilaku sejak dini, memang
sebaiknya untuk mendapatkan imunisasi MMR harus berkonsultasi lebih jelas
dahulu dengan dokter anak. Bila anak kita sudah dicurigai ditemukan bakat
kelainan Autism sejak dini atau beresiko terjadi autisme, mungkin bisa saja
menunda dahulu imunisasi MMR sebelum dipastikan diagnosis Autisme dapat
disingkirkan. Meskipun sebenarnya pemicu atau faktor yang memperberat
Autisme bukan hanya imunisasi. Dalam hal seperti ini kita harus memahami
dengan baik resiko, tanda dan gejala autisme sejak dini.

Tetapi bila anak kita sehat, tidak beresiko atau tidak menunjukkan tanda
dini gejala Autisme maka kita tidak perlu kawatir untuk mendapatkan
imunisasi tersebut. Kekawatiran terhadap imunisasi tanpa didasari
pemahaman yang baik dan pemikiran yang jernih akan menimbulkan
permasalahan kesehatan yang baru pada anak kita. Dengan menghindari
imunisasi maka akan timbul permasalahan baru yang lebih berbahaya dan
dapat mengancam jiwa terutama bila anak terkena infeksi yang dapat dicegah
dengan imunisasi

==========================

http://lita.inirumahku.com/health/lita/menjawab-masalah-mmr/
Menjawab Masalah MMR Published by Lita
November 13th, 2006 in Health.
Mari, kita bahas tuntas saja supaya saya bisa tidur
nyenyak. Setidaknya (saya harap) saya tidak lagi tersiksa karena bangun
tidur dalam keadaan sakit kepala akibat tidur sambil mikir. (Ini bisa
disimak dulu, jika anda tidak mengikuti sejak awal).
Thimerosal Penggunaan thimerosal, yang berbasis mercury. Thimerosal adalah
zat pengawet vaksin. Namun karena mengandung mercury (logam berat), maka
banyak memicu protes. Diduga sebagai salah satu pemicu autisme / masalah2
lainnya.
Betul. Thimerosal memiliki kandungan merkuri. Tepatnya adalah etil merkuri.
Yang jadi masalah, dasar dugaan bahwa thimerosal berbahaya mengacu pada
sifat yang dibawa oleh metil merkuri. Kedua organomerkuri ini berbeda dalam
sifat.

Berikut adalah cuplikan tulisan dr. Tonang Ardyanto, Keamanan Thimerosal
dalam Vaksin.
Analisis efek toksik thimerosal selama ini didasarkan pada efek metil
merkuri, sementara yang terkandung adalah etil merkuri.
—
Jurnal Toxicological Sciences [[4]] melaporkan konsentrasi thimerosal
untuk menimbulkan efek toksik adalah antara 405 µg/l – 101 mg/l atau setara
dengan kadar merkuri 201 µg/l – 50 mg/l. Sedang bila dihitung rata-rata,
bayi berumur 6 bulan mendapat akumulasi paparan merkuri maksimal dari
vaksinasi sebesar 32 – 52 µg/kg berat badan. Pada perhitungan lebih rinci,
angka ini hampir 4 kali lipat lebih rendah dari batas minimal tersebut.
Tetapi masih belum jelas apakah paparan dosis rendah dalam jangka panjang
akan mempengaruhi tingkat toksisitasnya.
—
Hal ini memperkuat dugaan Magos bahwa etil klorida mulai menimbulkan
risiko bila kadar dalam darahnya 1 µg/ml (1000 µg/l)[[13]]. Metil merkuri
lebih cepat menimbulkan risiko karena ada mekanisme transmisi aktif
difasilitasi oleh suatu asam amino sehingga cepat menembus sawar darah otak
(blood bran barrier). Sementara etil merkuri, di samping tidak memiliki
mekanisme transmisi aktif tersebut, juga berukuran molekul lebih besar dan
didekomposisi lebih cepat daripada metil merkuri [[14]]
—
Pengembangan vaksin baru tanpa thimerosal mengharuskan penelitian ulang
untuk mencari bahan pengganti dengan biaya sekitar 200 – 400 juta dollar.
Memang sudah ada pilihan lain seperti 2-phenoxy ethanol, etilen glikol atau
formaldehida tetapi efektivitasnya di bawah thimerosal. Sementara kendala
lain adalah variasi kemampuan produsen lokal, karena saat ini sudah banyak
persentase persediaan vaksin merupakan produk lokal.
Kenyataan bahwa negara seperti Amerika atau Perancis menurunkan bahkan
berusaha menghilangkan penggunaan thimerosal, tentu erat terkait dengan
kemampuan sistem kesehatan nasional masing-masing untuk melaksanakan
program tersebut. Sementara kalau kebijaksanaan ini dipaksakan ke seluruh
negara, bisa mengancam kelangsungan program vaksinasi dengan risiko
re-epidemi penyakit-penyakit infeksi.
—
Di Indonesia sendiri, masih mengijinkan peredaran vaksin dengan kadar
thimerosal 0,005 – 0,01% karena masih dibawah ambang batas menurut WHO.
Juga oleh rekomendasi Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia yang
belum mendapatkan bukti-bukti kuat efek merugikan thimerosal dalam vaksin.
Hasil inipun diperkuat oleh laporan Clements [[5]] dan Verstraeten et al.
[[17]], yang tidak mendapatkan hubungan konsisten antara paparan thimerosal
pada vaksin dengan gangguan perkembangan neurologis anak.
Dari Thimerosal in Vaccines (pembaruan tertanggal 25 September 2006).
Thimerosal terurai dalam tubuh menjadi etil merkuri dan tiosalisilat.
Mengapa hasil urai ini penting? Karena beberapa sebab berikut (sumber: NIAID
(National Institute of Allergy and Infectious Disease) Research on
Thimerosal, April 2005):

Merkuri, dalam bentuk metil merkuri (oral, bentuk tetes) dan thimerosal
(suntikan, bersama vaksin) langsung diserap dan dihantarkan masuk ke darah
dan otak.
Total merkuri (organik dan anorganik) dikeluarkan dari darah dan otak
lebih cepat setelah paparan thimerosal ketimbang metil merkuri.
Tingkat merkuri total terukur dalam darah dan otak lebih rendah setelah
paparan thimerosal ketimbang metil merkuri.
Merkuri hadir secara alami di lingkungan hidup manusia dalam tiga bentuk:
logam murni (seperti yang terdapat di termometer raksa), garam anorganik,
dan sebagai senyawa organik turunan (derivat). Sebagian besar merkuri alami
berada dalam bentuk logam dan anorganik. Karena merkuri ada di mana-mana,
tidaklah mungkin untuk mencegah SEMUA paparan terhadap senyawa ini.
Jadi, di vaksin benar ada thimerosal? Benar.
Lalu tentang ketidakjelasan toksisitas apabila terpapar dalam jangka waktu
panjang? Vaksinasi tidak dilakukan setiap hari (bahkan setiap pekan atau
setiap bulan) dalam kehidupan manusia sejak bayi hingga dewasa. Benar,
vaksin yang mengandung thimerosal kebanyakan adalah jenis multi-dosis.
Lalu kenapa multi-dosis?
Selama ini kemasan multi-dosis lebih disukai karena biaya produksi lebih
rendah dan memudahkan manajemen rantai beku (cold-chain management) dalam
pelayanan vaksinasi. Hal ini sangat berpengaruh untuk program vaksinasi
masal di negara-negara berkembang, dengan cakupan wilayah luas dan tenaga
pelaksana beragam.
Yang menarik: Measles, mumps, and rubella (MMR)
vaccine have never contained thimerosal !
Multiple vaccination MMR, sebagai triple vaccination, diduga membebani
sistim pertahanan tubuh dengan terlalu berlebihan.
Anak-anak terpapar pada banyak antigen (suatu zat yang dapat merangsang
reaksi kekebalan) asing setiap harinya. Makanan dapat membawa bakteri baru.
Banyak sekali bakteri hidup dalam mulut dan hidung, ‘membuka’ sistem
kekebalan tubuh terhadap antigen yang lebih banyak lagi.
Infeksi pernafasan atas akibat virus dapat membuat anak terpapar pada 4-10
antigen, dan radang tenggorokan pada 25-50 antigen. Menurut Adverse Events
Associated with Childhood Vaccines, sebuah laporan pada tahun 1994 dari
Institute of Medicine, “Pada keadaan normal ini, kecil kemungkinannya
sejumlah antigen terpisah yang terkandung dalam vaksin… dapat
memperlihatkan beban tambahan yang signifikan terhadap sistem kekebalan
yang berakibat pada tertekannya sistem kekebalan.” Nyatanya, data ilmiah
yang ada memperlihatkan bahwa vaksinasi simultan dengan vaksin kombo (yang
berisi beberapa jenis virus/bakteri) TIDAK memberi efek samping pada sistem
kekebalan tubuh anak dalam kondisi normal.
Vaksin kombo tidak akan direkomendasikan oleh berbagai komite/satuan tugas
jika tidak terbukti aman DAN efektif. Vaksin kombo tidak kalah efektif
dibandingkan dengan vaksin satuan/terpisah dan tidak membawa risiko efek
samping yang lebih tinggi.
Bahkan, American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan vaksinasi
simultan terhadap keseluruhan vaksin bagi anak apabila memungkinkan.
Penelitian masih terus berlanjut untuk menemukan cara mengombinasikan lebih
banyak antigen dalam satu suntikan saja (misalnya MMR dan varicella, DTaP
dan HIB). Ini akan memberi segala keuntungan vaksin terpisah, namun
memerlukan jumlah suntikan yang lebih sedikit.
Setidaknya ada dua keuntungan dalam memberikan beberapa vaksin sekaligus
pada satu kali imunisasi. Pertama, mengimunisasi anak sedini mungkin dapat
melindungi bulan-bulan awal kehidupannya yang sangat rentan. Ini berarti
memberikan vaksin non-aktif mulai usia 2 bulan dan vaksin hidup pada usia
12 bulan. Dengan begitu beberapa macam vaksin (terutama yang memerlukan
pengulangan, seperti DTaP dan polio) memiliki jangka waktu (pemberian) yang
sama.
Kedua, memberikan beberapa vaksin pada satu waktu berarti kunjungan
imunisasi yang lebih sedikit. Hal ini dapat sangat membantu orangtua
karena menghemat waktu dan uang, juga lebih kurang-traumatis terhadap
anak.
Sumber: Misconception about Immunization, More than one vaccine at a time
can overload immune system.
Sekadar mengingatkan, vaksin kombo sudah dikenal di Indonesia sejak
lama. Misalnya DTaP (Diphtheria, Tetanus toxoid, acellular Pertussis; FAQ
about DTaP). Bahkan pemberian DTaP dan polio secara bersamaan sudah lama
dipraktikkan oleh bidan. Jadi kekhawatiran bahwa 3 vaksin dalam MMR dapat
membebani berlebihan dapat disingkirkan, jika dibandingkan dengan 4 vaksin
dalam DTaP + polio. Setidaknya menurut statistik.
Selain itu, imunisasi simultan juga sudah banyak dipraktikkan di sini.
Misalnya anak saya, Daud, mendapat DTaP, polio, dan HiB (Haemophilus
influenzae type B) sekaligus. Jumlahnya jadi 5 vaksin
Ya. Tentu saja apabila anak saya tidak apa-apa bukan jaminan 100% bahwa
anak lain PASTI juga akan baik-baik saja. Tergantung kondisi kesehatan dan
banyak faktor lain.
Inflammatory bowel disease (IBD) Makin jelas potensi keterkaitan antara
inflammatory bowel disease (IBD) dengan autisme. MMR diduga bisa memicu
terjadinya IBD.
“A general term for any disease characterized by inflammation of the
bowel. Examples include colitis and Crohn’s disease. Symptoms include
abdominal pain, diarrhea, fever, loss of appetite and weight loss”. Istilah
umum bagi penyakit yang memiliki kekhasan berupa peradangan usus. Misalnya
colitis dan penyakit Crohn. Gejala meliputi sakit perut, diare, demam,
kehilangan nafsu makan, dan penurunan berat badan (perbendaharaan istilah,
National Immunization Program/NIP).
Dalam artikel Vaccines causes Autism yang telah disebutkan sebelumnya,
dinyatakan bahwa masalah autisme diangkat bersamaan dengan IBD. Dan
jawabannya sama: tidak terbukti adanya hubungan sebab-akibat secara
langsung.
Jumlah penyandang autis Walaupun tidak semua penerima vaksinasi
MMRmenjadi penderita autisme, tentu saja tidak berarti bahwa tidak
ada
masalah. Jika ada sekian persen saja yang tiba-tiba menjadi penderita autis,
maka ini perlu diteliti lebih lanjut.
Pada kasus di Inggris, ada peningkatan penderita autis 10 kali lipat
setelah diperkenalkannya imunisasi MMR.
‘Setelah’ dalam kalimat tersebut benar jika dilihat dalam kerangka waktu
kejadian, tapi belum tentu menggambarkan hubungan sebab-akibat. Jika ini
masalah timeline, maka yang berkait tidak hanya vaksin MMR, tapi juga
kemajuan teknologi. Tentu tidak pada tempatnya jika kita menempatkan
kemajuan teknologi sebagai penyebab autisme.
Bisa saja autisme telah hadir sejak lama, jauh sebelum pemberian vaksin
MMR dimasukkan ke jadwal imunisasi. Kenapa tidak muncul berita sejak dulu?
Bisa jadi karena perangkat diagnosanya belum ada, jadi masih dikenal
sebagai gangguan perkembangan (developmental disorder), belum dengan label
autisme.
Lho itu kan baru bisa jadi? Lha iya. Sama kan dengan kasus MMR? Bisa jadi
ada hubungannya. Bisa jadi tidak. Kalau baru sebatas ‘bisa jadi’, semua
bisa ‘ditembak’ sebagai penyebab. Toh belum terbukti jelas, ya atau
tidaknya.
Ya atau tidak. Ya pun bisa berbentuk persen, tak harus semua. Ruwet?
Begini. KALAU. MISALNYA. (jangan bilang saya menawari anda ide begini lho
ya!) Benar terbukti MMR menyebabkan autisme, berdasarkan penelitian anu dan
penelitian tersebut sah secara ilmiah. Pada kenyataannya, tidak semua anak
yang diberi vaksin MMR menjadi autis. Ini adalah contoh ‘ya’, yang punya
dasar bukti, yang berbentuk persen.
Penjelasan ini mungkin lebih membantu (masih dari artikel Vaccines causes
Autism):
Tanda-tanda autisme pertama kali dapat diamati oleh orangtua pada saat
anak mengalami keterlambatan bicara setelah umur satu tahun. Vaksin
MMRpertama diberikan pada saat anak berusia antara 12-15 bulan.
Karena rentang
usia ini JUGA adalah usia saat autisme mulai dapat diamati, TIDAK
MENGHERANKAN jika imunisasi MMR berbuntut autisme. Bagaimanapun, sejauh
penjelasan logisnya hanyalah KEBETULAN, bukan sebab-akibat.
Vaksin terpisah Bagaimana solusinya untuk saat ini? Saya kira kita juga
tidak ingin anak-anak kita menjadi korban MMR.
Pada saat ini sepertinya yang bisa kita lakukan adalah memvaksinasi secara
terpisah 3 kali (bukan digabung), dan memastikan bahwa vaksin-vaksin
tersebut tidak menggunakan mercury / zat pengawet berbahaya lainnya.

Ya, vaksin terpisah lebih kecil kemungkinannya memakai pengawet thimerosal.
Bagi yang memang mempertimbangkan dengan serius risiko autisme, vaksinasi
terpisah dan/atau di atas usia tertentu bisa jadi pilihan. Sedangkan bila
tidak, faktor berikut ini dapat menjadi bahan pertimbangan untuk memilih
vaksin kombo dan/atau imunisasi simultan:

Mempersingkat rentang jadwal imunisasi. Dalam waktu 9 bulan, imunisasi
yang tergolong wajib dan dianjurkan (hingga anak berusia 1 tahun) dapat
sudah selesai. Dilanjutkan umur 15 dan 18 bulan, lalu 3 tahun (merujuk ke
Jadwal Imunisasi rekomendasi IDAI 2004)
Lebih sedikit suntikan, mengurangi trauma.
Meminimalkan kunjungan ke dokter.
Total biaya (di luar biaya konsultasi dengan dokter) lebih murah.
Lebih awal terlindungi, lebih baik.
Vaksin halal Bagi yang muslim, saya kira kita juga perlu mulai
mempertimbangkan kehalalan vaksin. Saat ini sepertinya hal ini belum
banyak disadari.
Baiklah. Saya akui kita memang sangat kekurangan informasi mengenai hal
ini. Semoga dalam waktu dekat seluruh vaksin yang dianjurkan (tidak hanya
yang diwajibkan) di Indonesia (dan di negara lain) dapat memperoleh
sertifikasi halal.
Tentang imunisasi halal ini, suatu kali ada yang melontarkan alamat satu
laman imunisasi halal. Sungguh saya berharap. Ternyata isinya… Sebuah
rahasia sehat tanpa vaksin (!!!). Menggunakan ekstra nutrisi dan herbal
khusus yang memaksimalkan sistem imun. Oh. Baiklah.
Saya menyerah. Karena ternyata Linus Pauling disebut-sebut. Saya sudah
pernah membahasnya. Bukan, bukan saya menentang pentingnya kehalalan
vaksin. Tapi kehalalan suplemen herba ini dimanfaatkan dalam satu sisi
untuk pemelintiran informasi.
Betul. Sistem kekebalan tubuh yang baik akan memastikan kita tidak rentan
terinfeksi bakteri, virus, jamur, atau lainnya. Yang harus kita ingat,
peran makanan (herbanya dimakan kan?) dan vaksin berbeda.
Makanan memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh. Dan nutrisi yang tercukupi
dengan baik (jumlah dan variannya tercukupi) akan membantu memelihara
kesehatan tubuh. Mempertahankan kondisi kesehatan tubuh dalam keadaan baik.
Sedangkan vaksin bekerja dengan memberi sepasukan ‘prajurit musuh’ untuk
diinterogasi, dikumpulkan informasinya, dibuatkan kumpulan datanya, dan
dibangun proyek perlawanannya, berupa pasukan antibodi yang siap mengenali
dan melawan prajurit serupa apabila kelak datang menyerang. Kalau tidak
datang? Data tetap tersimpan. Tidak rugi.
Maksud saya, kita bicara dua hal yang berbeda! Duh. Lamannya? Cari sendiri
saja. Jelas sekali nampak histeria gerakan anti imunisasi.
Sumber (selain yang telah diberikan):

Frequently Asked Questions; Thimerosal in Vaccines.
FAQs dari CDC; Mercury and thimerosal, Thimerosal and vaccines,
Availability of thimerosal-free vaccines, References
Daftar vaksin yang mengandung thimerosal (tanggal pembaruan: 16 Oktober
2006).
Rekomendasi berkaitan dengan penggunaan thimerosal dalam vaksin
NIAID supported studies on mercury, thimerosal, and vaccine safety.
Critical review on published data
Autism Information Center (CDC)
Autism and mercury.
MMR and autism. Dari Sp!ked-online. Atau hasil pencariannya di sini.
How harmful are additives and preservatives in childhood vaccines?

================================================

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: